Tiga bulan lalu, Helen memanggil beberapa calon karyawan untuk
wawancara. Dari seluruh pelamar yang dipanggil, Helen tertarik dengan
dua orang yang dinilai paling cocok. Salah seorang, sebut saja bernama
Nana, adalah seorang fresh graduate. Nana belum pernah bekerja, baru
lulus D3 langsung mengirimkan surat lamaran. Dilihat dari angka
akademiknya cukup bagus, penampilannya di foto juga oke, maka Nana
termasuk dipanggil untuk wawancara pertama.
Ketika datang ke kantor untuk wawancara pertama, Nana tampil oke.
Sebagai seorang fresh graduate, penampilannya lebih baik dari yang
lain. Seakan-akan dia sudah pernah bekerja. Setelah wawancara selesai,
Nana keluar dan melewati ruang resepsionis, Helen tanpa sengaja melihat
bahwa Nana tidak berpamitan kepada resepsionis, bahkan tersenyum pun
tidak.
Seorang calon lain, sebut saja bernama Wati, juga menarik perhatiannya.
Sama seperti Nana, dia juga seorang fresh graduate. Hanya bedanya, Wati
pernah bekerja di sebuah perusahaan selama tiga bulan. Di perusahaan
tersebut, Wati merasakan susahnya bekerja. Dia tidak boleh seenaknya
keluar dari kantor.
Waktu makan siang pun dibatasi. Untuk minta ijin tidak masuk kerja juga
sangat sulit, sehingga dia selalu memilih tetap masuk kerja meskipun
sedang sakit. Untungnya dia hanya pernah sakit flu dua kali. Bukan
penyakit yang termasuk parah.
Waktu dipanggil untuk wawancara, Wati minta agar boleh datang setelah
jam kerja. Helen setuju. Ketika datang, Wati berpenampilan rapi dan
sederhana. Dia dengan cepat menjawab semua pertanyaan. Ketika datang,
dia menyapa resepsonis dengan ramah. Ketika pulang dia juga berpamitan
dengan office girl yang kebetulan menunggu di samping meja resepsionis.
Sopan dan tulus.
Setelah melalui berbagai test, akhirnya kedua orang ini, Nana dan Wati,
diterima bekerja di bagian marketing. Keduanya sama-sama belum
berpengalaman di bidang marketing. Karena itu, mereka berdua harus
sama-sama belajar. Dari pengetahuan produk hingga cara melakukan
pendekatan, cara menjual dan sebagainya.
Nana tampaknya mudah mengerti apabila diberitahu mengenai sesuatu.
Langsung berkata "Ya pak, ya pak." Sehingga atasannya menilai Nana
sangat cepat belajar. Sebaliknya Wati banyak bertanya apabila
diberitahu mengenai sesuatu. Kadang-kadang harus diulang sekali lagi,
baru Wati tampak puas dan mengerti.
Lapor perkembangan
Setiap akhir bulan dia melapor kepada Helen mengenai perkembangan Nana
dan Wati. Kesannya terhadap mereka berdua cukup positif, sehingga Helen
mulai berpikir untuk mempertahankan mereka berdua setelah selesai masa
percobaan.
Seperti biasa, Helen juga seringkali melakukan kunjungan keliling ke semua departemen, terutama yang ada karyawan barunya.
Ternyata apa yang ditemuinya di lapangan sangat mengejutkan Helen.
Hampir dalam segala hal, Nana selalu bertanya kepada teman-teman lain
atau minta bantuan mereka untuk mengerjakan semua pekerjaannya.
Ternyata semua penjelasan dari atasannya tidak dimengerti sama sekali
olehnya. Setiap kali atasannya selesai menjelaskan sesuatu dan beliau
berlalu, maka segera Nana ribut bertanya kepada yang lain sambil
berkeluh kesah.
Bahkan, seringkali Wati mengerjakan pekerjaan Nana, bukan hanya
membantunya saja. Begitu pula setiap kali Nana menerima perintah dari
atasannya untuk melakukan sesuatu, selalu dia berkeluh kesah panjang
lebar.
Misalnya ketika dia diminta menelepon salah seorang pelanggan yang
sudah lama tidak berhubungan lagi dengan perusahaan tersebut, Nana
mengeluh dengan bersuara keras:"Ah! Sebel deh! Disuruh-suruh melulu!
Harus menelepon orang lagi! Reseh!"
Dan sialnya, Helen mendengar langsung keluhan Nana ketika kebetulan dia
berada di pintu masuk ruangan marketing. Segera Helen memanggilnya dan
menanyakan hal itu, tapi Nana hanya minta maaf saja sambil
tersenyum-senyum
Begitu juga ketika dia harus pergi mengunjungi salah seorang pelanggan
penting, Nana berkeluh kesah seperti biasa. "Huuuh! Sebel! Masa gua
harus pergi lagi! Kan cape?! Masa disuruh-suruh lagi!". Lalu dia
mengajak Wati dan pergi sambil cemberut.
Berbeda dengan Wati. Perintah apapun langsung dikerjakan dengan penuh
semangat. Disuruh kemana pun, Wati siap. Cara kerjanya juga cepat. Dia
tidak pernah mengeluh. Bahkan, dia tidak pernah keberatan membantu
pekerjaan Nana sambil mengerjakan tugasnya sendiri.
Dan, diakhir masa percobaan, bisa ditebak siapa yang dinyatakan lolos
dan siapa yang tidak. Helen melihat, Wati sangat menghargai
pekerjaannya yang sekarang karena dia pernah merasakan betapa beratnya
bekerja di tempat kerja sebelumnya.
Di perusahaan yang sekarang Wati sangat bersyukur karena atasannya
tidak segalak dulu. Atasannya mempercayainya, tidak cerewet, dan
memperlakukannya dengan wajar. Jadi Wati sangat menikmati pekerjaannya
yang sekarang.
Sebaliknya Nana menganggap kebaikan atasannya sebagai suatu kesempatan
untuk bisa berbuat seenaknya tanpa takut dimarahi. Dia menganggap
atasannya pasti tidak akan marah kepadanya. Dia masih menganggap
pekerjaan sebagai suatu kegiatan sosial yang sering dilakukannya.
Karena itu Nana merasa berhak untuk merasa kesal kalau disuruh-suruh. Nana belum bisa menghargai pekerjaannya.
Hargai pekerjaan Anda. Love Your Job!
Sumber: Menghargai Pekerjaan oleh Lisa Nuryanti
Iklan oleh Google
Hargai pekerjaan Anda. Love Your Job
Sekolah Hidup Susah
Sekolah Hidup Susah
Untuk menjadi kaya, semua orang bisa instan melakoni. Namun, tidak
siapa saja siap menjadi orang susah.
Orang miskin baru kian banyak. Penganggur baru menambah bengkak angka
kemiskinan. Bisa jadi, itu sebabnya, selain angka bunuh diri tinggi,
tiga dari sepuluh orang Indonesia tercatat terganggu jiwanya.
Tidak siap hidup susah berisiko sakit jiwa. Ada cara sederhana
menekan risiko sakit jiwa. Sejak kecil anak dibuat tahan banting.
Ketahanan jiwa anak harus dibangun. Untuk itu, jiwa
butuh "imunisasi".
Menerima kenyataan
Sejak kecil anak diajar lebih membumi. Yang gagal kaya rela menerima
kenyataan. Yang belum pernah hidup susah diajar prihatin sedari
kecil. Kendati kecukupan, tidak semua yang anak minta perlu diberi.
Anak dilatih merasakan kegagalan.
Tugas orangtua dan guru mengajak anak berempati pada kesusahan orang
lain. Hidup tak luput dari berbagai stresor. Tak semua stresor jelek.
Supaya jiwa tahan banting, stresor dibutuhkan. Anak perlu mengalami
seperti apa tekanan hidup, konflik, kegagalan, rasa kecewa, dan
krisis dalam hidup. Seperti vaksin, biasakan anak memikul aneka
stresor yang bikin jiwanya kebal seandainya kelak hidupnya susah.
Tanpa dilatih hidup susah, anak yang terbiasa hidup berkecukupan tak
tahan banting. Lebih banyak orang sukses lahir bukan dari keluarga
kecukupan. Hidup prihatin membuat jiwa tegar bertahan melawan
kesusahan. Hidup susah membangun mimpi ingin lepas dari rasa kapok
menjadi orang susah. Demi mengubah mimpi jadi kenyataan, spirit kerja
keras pun dipecut.
Einstein percaya, untuk sukses diperlukan lima persen otak,
selebihnya keringat (perspirasi) . Spirit kerja keras menjadi milik
orang yang tak pernah puas pada prestasi yang diraih. Seperti bangsa
Troya dulu, pembangunan Jepang dan Korea lebih pesat ketimbang bangsa
sepantar karena memiliki "virus" n-Ach (need-for-Achieveme nt) yang
tinggi.
"Virus" n-Ach bisa ditularkan kepada anak lewat asuhan dan
pendidikan. Bacaan memuat nilai kehidupan, termasuk mendongeng,
pendidikan berdisiplin, dan keteladanan orang lebih tua. Itu modul-
modul kehidupan agar anak tahu juga hidup susah.
Jiwa getas
Kebiasaan meloloh anak dengan kelimpahruahan tidak melatih anak
merasakan gagal, kecewa, rasa ditekan, rasa konflik, atau rasa
krisis. Tanpa tempaan stresor, jiwa getas. Jika jiwa getas, orang
rentan stres. Bila tak terlatih hidup berdamai dengan stres, hidup
berisiko gagal andai harus jatuh miskin.
Tak ada sekolah yang mengajarkan menjadi orang miskin. Tak pula ada
kursus memampukan anak terbiasa hidup berdamai dengan stres. Yang
bisa kita lakukan adalah mengasuh dan mendidik anak tahan banting.
Mandat itu harus ada di pundak setiap orangtua.
Tidak semua anak kecukupan pernah mengalami stresor. Dalam pendidikan
modern, anak sengaja dihadapkan pada stresor buatan. Ada pelatihan
diam-diam, dalam suasana berkemah atau outbound diciptakan situasi
krisis. Mobil sengaja dibuat mogok di tengah hutan pada malam hari,
atau kehabisan makanan selagi camping.
Dihadang stresor buatan, anak dilatih bagaimana bereaksi,
beradaptasi, agar mampu lolos dari rasa panik, rasa takut, rasa tidak
enak berada dalam situasi darurat. Ini bagian dari upaya membuat
kebal jiwa anak. Bila jiwa tak tahan banting, sontekan stres kecil
mungkin diatasi dengan bunuh diri. Kini semakin banyak kasus bunuh
diri hanya karena alasan enteng. Gara-gara ditinggal pacar, tidak
naik kelas, sebab jiwa tak terlatih memikulnya. Maka jiwa perlu
digembleng.
Kerja keras
Menggembleng berarti menunjukkan rasa arah hidup prihatin, selain
berdisiplin. Hidup berdisiplin berarti menjunjung tinggi kebenaran,
memikul tanggung jawab, kerja keras, serta mampu menunda kepuasan.
Menunda kepuasan bentuk keunggulan sebuah bangsa. Bangsa unggul
memiliki "virus" n-Ach tinggi. Anak yang diasuh dan dididik dengan
nilai-nilai "virus" n-Ach, menyimpan bekal sukses. Itu kelihatan,
misalnya, dari cara makan. Anak dengan n-Ach tinggi menyisihkan yang
enak dimakan belakangan, yang tidak enak dimakan dulu. Tugas berat
dikerjakan dulu, yang enteng belakangan. Bersakit-sakit dulu
bersenang-senang kemudian menjadi kredo bangsa yang sukses.
Agar tahu hidup susah, anak diajak memahami bahasa hidup bukan uang
semata. Tak semua semerbak kehidupan bisa dipetik dengan uang.
Kebahagiaan tertinggi hanya terpetik setelah orang mampu merasa
bersyukur meski cuma menjadi orang biasa (mengutip Gede Prama).
Sukses hidup sejati tak mungkin terpetik instan. Jiwa potong kompas,
ingin lekas kaya, tumbuh dari budaya instan. Bukan rasa arah yang
benar saja yang perlu ditanamkan saat membesarkan anak, tetapi harus
benar pula menempuhnya di mata Tuhan.
Anak disiapkan menjadi insan linuwih (terinternalisasi penuh
superegonya) dengan cara mengempiskan egonya sekecil mungkin.
Rekayasa sosial (social engineering) diperlukan dengan
menyuntikkan "vaksin" hidup prihatin. Perlu pula penyubur superego
agar kendati hidup susah masih merasa bahagia.
Hanya bila bibit linuwih dipupuk sejak kecil, sekiranya hidup susah
tak tergoda memilih serong. Kendati tak banyak harta, uang, atau
kuasa, ke arah mana pun hidup memandang, merasa tetap "kaya". Mampu
legawa, bersyukur, dan merasa berbahagia sudah pula meraih Oscar
kehidupan, kendati mungkin hanya menjadi orang biasa.
Sumber: Sekolah Hidup Susah oleh Handrawan Nadesul, Dokter, Penulis
Buku, Pengasuh Rubrik Kesehatan
